Minggu, 21 April 2024

Silsilah Manuskrip TQN Kimenyan

Manuskrip di Kimenyan ditemukan 2022

Penuis : Haji Toyib bin Haji Abdulah





Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah (TQN)

TQN dicetuskan oleh Syekh Ahmad Khatib Ibnu Abdul Gaffar Sambas. Ia lahir di Sambas, Kalimantan Barat pada tahun 1802 M., dan ketika berusia sembilan belas tahun melanjutkan studinya ke Mekah dan menetap di sana hingga wafat pada tahun 1872 M.[1] Ia mempelajari dan menguasai pelbagai cabang keilmuan Islam, terutama Ilmu Tasawuf. Dalam Ilmu Tasawuf ia berguru kepada Syekh Daud ibn ‘Abd Allah ibn Idris al Fatani (w.1843 M), Syekh Muhammad Arsyad al Banjari, Syekh ‘Abd al Shamad al Palimbani, dan Syekh Syamsuddin. Dari beberapa gurunya ini, Syekh Syamsuddin lah yang banyak memengaruhi corak tasawuf Syekh Ahmad Khatib. Di mata Syekh Syamsuddin, Syekh Ahmad Khatib adalah murid paling unggul dibanding para murid lainnya. Oleh karena itu, Syekh Syamsuddin menetapkan Syekh Ahmad Khatib sebagai Syekh Mursyid Kamil Mukammil dan pengganti kepemimpinan tarekatnya setelah ia meninggal.[2]

Sebagaimana gurunya, Syekh Ahmad Khatib menjadi mursyid dari dua tarekat besar, yaitu Tarekat Naqshabandiyah dan Tarekat Qadiriyah.[3] Namun, ia berbeda dengan para pendahulunya dalam proses pengajaran. 

Para pendahulunya mengajarkan kedua tarekat tersebut secara terpisah, namun ia mengajarkannya sebagai satu kesatuan yang diamalkan secara utuh. Oleh karena hal itulah, menurut Van Bruinessen, tarekat yang diajarkan Syekh Ahmad Khatib dikatakan sebagai sebuah tarekat baru, dan dia sebagai pencetus awalnya.

 Rangkaian amalan TQN, sebagai sebuah tarekat gabungan, tersusun dari ajaran tarekat dasarnya, Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Qadiriyah. Sebagai contoh, amalan TQN yang paling mudah diketahui sebagai gabungan dari kedua tarekat tersebut ialah pada metode zikirnya. Dalam melakukan dzikir nafi wa ithbat, seorang pengikut TQN harus menggerakkan kepala dan membayangkan dzikir itu ditarik melalui alur badan. 

Lafadz la ditarik dari pusar ke otak, ilaha dari otak ke bahu kanan, lalu illallah dari bahu kanan dihujamkan ke arah jantung (lathifah al qalb). Selain lathifah al qalb yang terletak di jantung, zikir juga dipusatkan pada lima lathaif lainnya, yaitu lathifah al ruh (di dada kanan), lathifah al sirri (dua jari di atas puting kiri), lathifah al khafi (dua jari di atas puting kanan), lathifah al akhfa (di tengah dada), dan lathifah al nafs al nathiqah (di otak). Alur gerak dari pusar ke otak hingga berakhir ke jantung adalah unsur pengaruh Tarekat Qadiriyah, sedangkan terkait lathaif adalah dari Tarekat Naqshabandiyah. Zikir tersebut bisa dilakukan dengan suara keras (jahr) sebagaimana Tarekat Qadiriyah maupun dengan tanpa suara (sirri) sebagaimana Tarekat Naqsyabandiyah. 

Selain itu, sebagaimana pernyataan Syekh Ahmad Khatib pada kitabnya, Kitab Fath Al’arifin, TQN juga mengandung unsur ajaran tarekat lain, yakni dari Tarekat Alanfas, Tarekat Aljunaydiyyah, dan Tarekat Almuwafaqa.[4]

Syekh Abdul Karim Albantani : Peletak dasar TQN Jawa 

Dilahirkan di Desa Lempuyang, Tanara, Banten, Jawa Barat pada tahun 1840 M. Nama orang tua dan masa pendidikan kecilnya tidak banyak diketahui, namun yang jelas dalam usia yang masih muda ia telah pergi ke Mekah untuk belajar agama kepada dan mengabdi di rumah Syekh Ahmad Khatib Sambas. Berkat ketekunan dan bimbingan dari gurunya yang tidak kenal lelah, Syekh Abdul Karim pun menjadi orang yang piawai dalam cabang ilmu tasawuf dan tarekat. Dari sinilah Syekh Ahmad Khatib mengangkatnya menjadi khalifah utama, dan ditetapkan sebagai calon pengganti kepemimpinan TQN sepeninggalnya. 

Pada tahun 1872 M, Syekh Abdul Karim pulang dan mendirikan pesantren di tanah kelahirannya, Tanara, Banten. Tidak banyak diketahui nama dan letak persis pesantrennya, namun diinformasikan bahwa selain mengajarkan TQN di pesantrennya, ia juga sering berkeliling ke seluruh wilayah Banten guna mengajarkan cara berzikir dan ritual pembersihan jiwa. Hal inilah kiranya yang menjadikan pamor dan kharismanya tersebar dengan cepat ke seluruh Banten dan beberapa daerah sekitarnya. Dari situlah kemudian banyak murid berdatangan ingin mengecap ilmu dan belajar TQN kepadanya. Mereka tidak hanya berasal dari daerah sekitar Banten, tapi juga banyak yang dari daerah lain. 

Di antara murid dan khalifah Syekh Abdul Karim yang menonjol dan lahir dari pesantren ini ialah: Tubagus Muhammad Falak Pagentongan; Syekh Asnawi Caringin; Syekh Ibrahim al Brumbungi Demak; Tubagus Ismail, dan H. Mardjuki Banten. Dua nama yang disebut terakhir memiliki peran besar dalam peristiwa pemberontakan petani di Banten tahun 1888 M. Pada tahun 1876 M, sebelum pemberontakan petani terjadi, Syekh Abdul Karim diminta ke Mekah untuk memegang pucuk pimpinan TQN, menggantikan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Sesampai di Mekah yang kedua kalinya ini, pengaruh Syekh Abdul Karim meningkat. Ia sangat dihormati oleh para ulama Mekah ketika itu, dan ditaati oleh seluruh khalifah Syekh Ahmad Khatib lainnya. Namun setelah ia meninggal dunia, TQN menjadi terpecah dengan kepemimpinan lokal. Tidak ada lagi pimpinan pusat yang ditaati oleh seluruh anggota TQN di seluruh dunia. 

Di Banten, sepeninggal Syekh Abdul Karim pergi ke Mekah yang kedua, penyebaran TQN diserahkan kepada Syekh Asnawi Caringin. Putra Syekh Asnawi, Kyai Khozim, menyebarkan TQN ke daerah Menes yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Kyai Ahmad. Pengakuan Kyai Khozim, ia tidak mendapatkan ijazah penuh dari ayahnya, namun ia dilantik sebagai khalifah oleh khalifah ayahnya, Kyai Ahmad Suhari Cibeber. 

Sepeninggal Syekh Asnawi, posisi pimpinan TQN di Banten diserahkan kepada keponakannya, Kyai Armin. Selain dua khalifah tersebut, Syekh Asnawi juga memiliki satu khalifah lagi yang menonjol, Syekh ‘Abd al Latif bin Ali dari Cibeber. Awalnya, Syekh ‘Abd al Latif menyebarkan TQN di  Cibeber. Namun atas perintah Syekh Asnawi ia pindah ke Cilegon, dan menjadi khalifah gurunya di sana. Kemudian TQN di Cibeber diserahkan kepada Kyai Muhaimin.19 Selain Syekh Asnawi Caringin, Syekh Abdul Karim juga menunjuk beberapa khalifah lain di Jawa, di antaranya Syekh Ibrahim al Brumbungi Demak, Syekh Falak Pagentongan, dan Syekh Zarkasyi Berjan Purworejo. 



[1] Umar ‘Abd al Jabbar, Siyar wa Tarajim ba’d ‘Ulama’ina fi al Qarn al Rabi’ ‘Ashar lil Hijra (Jeddah: Tihama, 1982), 7.
[2] Sri Mulyati, Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka (Jakarta: Kencana, 2006), 175-177. 
[3] Atika Ulfia Adlina, “Pengalaman Mistik Pengikut TQN Dawe Kudus”, Jurnal Analisa, Vol. 19, No. 01, Januari – Juni (2012), 37-54.
[4] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, 215.

Silsilah Manuskrip TQN Kimenyan Manuskrip di Kimenyan ditemukan 2022 Penuis : Haji Toyib bin Haji Abdulah Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah...